Aikido Columns “It Had to Be Felt” dari Aikiweb

Dimulai dari tulisan ini, saya akan mencoba menerjemahkan kolom–kolom “It Had to Be Felt” dari website www.aikiweb.com yang dipelopori oleh Ellis Amdur (seorang praktisi beberapa macam budo dan beladiri cina). Kemudian atas permintaan beliau atau atas keinginan tiap-tiap kontributor, semakin banyak yang berkontribusi dalam kolom tersebut.

Kolom–kolom tersebut mendeskripsikan pengalaman pribadi tiap-tiap praktisi saat mengalami secara langsung menjadi uke (taking ukemi) dari para tokoh aikido. Menurut ucapan Ellis Amdur secara langsung : “ I would like to be part of something that, collectively, is … for some time, even decades, the aikido community will have a resource in which people can, for example, look up and read what it was like to grab Tada Hiroshi or Kuroiwa Yoshio, all these wonderful teachers who are now gone, or whom you will perhaps have no chance to meet. There were giants on the earth in earlier days – perhaps we can, at least, get a felt sense of what it was like to work directly with them through people’s memories”


Kolom–kolom “It Had to Be Felt” ini dimulai dari #1 Chasing Doshu (Doshu yang dimaksud adalah Kisshomaru Ueshiba Sensei), #2 Chasing Waka Sensei (Waka Sensei saat itu adalah Moriteru Ueshiba Sensei), dst. Namun, saya tidak akan menerjemahkan seluruhnya, mengingat banyak dari tokoh aikido dalam kolom tersebut mungkin tidak kita kenal.

Format tulisan pertama adalah terjemahan murni dari teks asli tanpa saya tambahkan komentar atau catatan apa pun, lalu dilanjutkan dengan catatan–catatan pribadi saya atas apa yang saya dapatkan dari teks asli tersebut. Saya menyadari bahwa saya bukan seorang penerjemah sehingga terjemahan berikut sudah pasti jauh dari sempurna. Banyak kata, kalimat, istilah, ungkapan, atau pun lelucon khas bahasa Inggris yang mungkin akan terdengar sedikit aneh apabila diterjemahkan. Oleh karena itu, saya mencantumkan link teks aslinya dalam bahasa Inggris di website aikiweb.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan memberikan kebaikan.

Kisshomaru Ueshiba

#1 Mengejar Doshu, oleh Ellis Amdur

Saya mulai berlatih di Aikikai Honbu Dojo pada Januari 1976. Saya dapat bertahan karena 3 alasan: Tinggi saya 2 meter, dan paling tidak pada saat itu adalah orang paling tinggi yang berlatih di sana; Saya diperkenalkan secara pribadi kepada Doshu (Kisshomaru Ueshiba) oleh instruktur saya, Yasunori Kuwamori, yang datang ke sesi latihan 1 jam, tetapi terlambat 20 menit, dan Doshu menghentikan kelas untuk bertanya maksud kedatangannya karena beliau tahu bahwa dia tidak pernah bangun pagi. Saya diperkenalkan kepada Doshu sebagai murid dari Mitsugi Saotome, yang pada saat itu sedang keluar dari Aikikai dan sebenarnya bukan guru saya. Doshu melihat saya sambil menimbang–nimbang, lalu saya berbicara dengan bahasa Jepang yang seadanya untuk mengoreksi guru saya dengan mengatakan bahwa saya bukan murid dari Saotome Sensei, beliau dapat disebut teman saya, saya adalah murid dari Terry Dobson (Padahal pada saat itu Terry lebih dianggap seorang yang bermasalah--dan ucapan saya tentang “Saotome Sensei adalah teman saya”, pada masa itu merupakan hal yang aneh dan tidak biasa diucapkan oleh seorang anak muda yang hanya berlevel Kyu 1). Doshu mengatupkan bibirnya, melihat saya dari atas ke bawah, lalu memanggil Ichiro Shibata, memperkenalkan saya sebagai murid dari Terry Dobson. Shibata tahu bahwa ini adalah suatu momen yang tidak biasa, lalu seperti pada film kartun Bug’s Bunny, ketika tiba–tiba muncul angin puting beliung dan seorang yang tidak disangka–sangka muncul, meludah, lalu pergi menghilang kembali. Lalu saat kelas berakhir, Kuwamori mengatakan bahwa dia akan pulang ke rumah untuk melanjutkan tidur (pastinya sambil diam–diam tertawa), tetapi saya sebaiknya melanjutkan ke kelas berikutnya. Saya melihat Shibata-san berbicara kepada Miyamoto-san, lalu kelas berikutnya dimulai (saya tidak ingat siapa yang memimpin latihan saat itu --saya merasa seperti dalam kecelakaan mobil yang berkepanjangan) dan Miyamoto berlari mendatangi saya, mengajak saya untuk berlatih dengannya. Bahkan, saat sang pemimpin latihan menyuruh untuk berganti pasangan latihan setiap selesai 1 teknik, Miyamoto menahan saya seperti anjing dengan tulang favoritnya, dan “menghabisi” saya sepanjang waktu latihan. Pagi berikutnya, ada Seki-san, dan lengkaplah saya bertemu 3 uchi deshi terbaik, ditambah Yasuno-san, yang keempat, murid dari Seigo Yamaguchi, walaupun bukan kombinasi yang sempurna dengan yang lain. Saya akan menulis mengenai shihan–shihan muda ini di kemudian hari.

Saya datang kembali. Setiap hari saya datang. Di malam hari, saya berada di Kuwamori Dojo atau dojo lainnya (milik Kuroiwa Sensei, atau Nishio Sensei), tetapi di pagi hari, 2 sesi latihan, dan 1 sesi di siang hari, saya berada di Aikikai.

Saya memiliki beberapa kelebihan yang membuat saya terlihat menarik bagi para guru sehingga saya segera dipanggil untuk menjadi uke saat menunjukkan teknik.

  • Pertama–tama, ukuran tubuh saya. Saya bukan orang yang terlalu besar, tetapi saya tinggi dan bugar, melempar seseorang sebesar saya terlihat sangat bagus, dan menjadi suatu hal yang menarik untuk dipelajari. Terkadang seorang Shihan mendekati saya saat jeda antarsesi latihan dan mengatakan, “Hei, coba saya lakukan suatu teknik dengan-mu”, dan mereka mencoba mencari tahu apakah teknik–teknik tertentu membutuhkan penyesuaian untuk orang seukuran saya.

  • Kedua, sikap saya. Saya menyerang dengan keras, tetapi saya tidak mengacau --atau mencoba untuk mengacaukan-- teknik yang dilakukan sang guru. Saya secara jujur memberikan apa yang diinginkan. Saya memperhatikan bagaimana murid mereka saat menjadi uke, dan walaupun saya tidak meniru mereka secara langsung, saya dapat memahami apa yang diinginkan sang guru. Saya memberikan serangan yang jelas sehingga memungkinkan mereka menunjukkan prinsip–prinsip yang ingin mereka sampaikan. (Ada beberapa pengecualian --saya akan menuliskannya pada kolom–kolom berikutnya-- tapi secara umum, cara saya melakukan ukemi dinilai cukup baik).
  • Saya bukan kelinci percobaan yang selalu meloncat sendiri dengan indah. Tidak ada seorangpun di Honbu saat itu yang melakukannya. Bahkan, Nobuyuki Watanabe tidak menginginkan hal tersebut, walaupun beberapa dari muridnya sering menjatuhkan diri ke mana–mana. Namun, saya melakukan serangan yang jujur, dan mendapatkan lemparan atau kuncian yang jujur sebagai jawabannya.

  • Saya menghormati tiap guru pada kelas mereka masing–masing. Jika saya menghadiri kelas Osawa Sensei, saya berusaha melakukan teknik persis seperti yang diajarkan. Begitu juga saat di kelas Tada Sensei, Ichihashi Sensei, atau Chiba Sensei. Saya memiliki kesempatan untuk membentuk teknik saya sendiri di Kuwamori Dojo, dengan persetujuan Yasunori Kuwamori, dan saya memanfaatkan kehadiran saya di tiap kelas yang dipimpin oleh guru–guru lain untuk mengumpulkan pengetahuan sebanyak mungkin. Saya berubah secara osmosis --setelah Tada Sensei, contohnya, melakukan suatu teknik kepada saya atau menunjukkannya dengan uke lain sebanyak beberapa kali di depan saya, detail aspek yang dilakukan oleh beliau mulai muncul dalam gerakan saya sendiri. Saya berusaha menjadi murid terbaik bagi tiap guru. Seiring berjalannya waktu, saya mengurangi datang ke kelas beberapa guru tertentu, karena dapat dikatakan saya tidak menginginkan tambahan pengetahuan dari mereka. Akan tetapi, saya selalu membuka diri untuk belajar dari semua orang. Bahkan, saat saya berlatih dengan seorang senpai, saat mereka menginstruksikan sesuatu, walaupun beliau adalah orang tua yang membosankan (banyak sekali orang seperti ini di lingkungan aikido Jepang), saya akan melakukan persis seperti yang mereka katakan. Saya menggunakan sistem senpai demi keuntungan saya sendiri --melihat dari sudut pandang bahwa “tiap orang pasti mengetahui sesuatu”. Hal ini terbangun oleh kebudayaan setempat, saya tidak pernah merasakan kehilangan muka atau ego setiap mengikuti arahan mereka. Saya yakin bahwa sampai suatu saat tertentu, saya akan menjadi semakin baik sehingga mereka tidak perlu mengoreksi saya lagi. Daripada memutuskan gaya saya sendiri dari sempitnya pengetahuan saya, saya biarkan gaya saya sendiri berpadu dengan sebanyak mungkin pengetahuan yang dapat saya peroleh.

  • Saya dapat menerima teknik yang keras dengan melakukan ukemi yang aman, dan saya cukup sulit untuk disakiti. Reaksi saya cukup tepat untuk melihat atemi yang datang dan bereaksi, tetapi tidak bereaksi berlebihan, dan jika seseorang memelintir siku atau pergelangan tangan saya, saya cukup kuat menahan dan melakukan ukemi yang tepat tanpa membuat diri sendiri cedera.
Ellis Amdur as Nage

  • Yang paling utama, saya sangat bahagia dan gembira saat latihan. Maksud saya adalah saya berlatih dengan serius, tetapi sangat terlihat jelas bahwa saya menikmati saat–saat latihan tersebut. Sikap tersebut mempengaruhi keadaan sekitar.
Doshu mulai secara rutin memanggil saya sebagai uke setelah sekitar 1 bulan saya berlatih di sana, bahkan sebelum saya mencapai level Shodan. Namun pertama–tama, saya akan menjelaskan kesan saya terhadap Doshu. Saya melihat beliau berbicara dan tertawa bersama yang lain, mendengarkan beliau saat memberikan instruksi, tetapi beliau memiliki “sesuatu” yang tidak ditunjukkan. Beliau selalu seperti terpisah, bahkan sendirian. Beliau akan menatap dengan tenang kepada sesuatu yang sedang terjadi dengan keheningan yang berwibawa. Beliau mengingatkan saya kepada sosok seorang “Kaisar”, ditempatkan dalam tugas yang tidak dapat dihindari untuk beliau penuhi. Peran tersebut tampak dilakukan dengan baik --Saya tidak ingin meninggalkan kesan dalam pikiran, sepertinya beliau ingin berada di tempat lain. Namun, beliau tampak terpisah.



2 hal yang menghilangkan kesan tersebut, yang keduanya membuat saya tersenyum adalah:

·         Kuroiwa Sensei menceritakan bagaimana saat murid–murid muda pergi untuk minum–minum, lalu Doshu, saat itu masih berstatus Waka-sensei, ikut bersama, lalu beliau agak mabuk bahkan terkadang tanpa sadar memegang bokong pramusaji, kemudian mereka membawanya pulang, sambil bernyanyi.


·         Diantara murid–murid yang berlatih di Honbu saat itu terdapat seorang berkebangsaan Prancis, Daniel (saya tidak ingat nama belakangnya). Seingat saya dia menyandang gelar Sandan atau Yondan, bersama saudaranya sama–sama memiliki tinggi badan sekitar 4 kaki 6 inci. Kami secara rutin datang berlatih ke kelas Doshu, dan saat kelas selesai, kami melanjutkan berlatih bersama, sambil setengah bercanda. Dia melakukan tenchi nage kepada saya, dan saya melakukan shiho nage. Doshu, sambil berjalan menuju pintu, tiba–tiba berhenti selama sekitar 5 menit, hanya berdiri melihat, tertawa, seperti melihat perkelahian antara bangau dengan musang, dengan gaya mereka masing-masing.

Pada suatu hari, Doshu memanggil saya untuk menyerang. Seingat saya adalah serangan eri dori. Beliau melakukan tenkan lalu mengunci dalam posisi wakigatame --beberapa orang menyebutnya “rokyo” atau hijikime osae. Saya merasa seperti dihantam dengan alat yang presisi --coba bayangkan, seperti dalam film Terminator, ketika sebuah android yang tidak memiliki daging dan hanya sebuah tulang–tulang dari logam, menghasilkan kekuatan melalui putaran roda gigi pada sendi–sendinya sampai terkunci. Seperti itu yang saya rasakan-- saya bergerak dan tiba–tiba terkunci. Secara tepat, tanpa dapat dihindari, saya terjatuh berlutut pada satu kaki dan pada saat itu beliau tetap menjaga kontrol terhadap saya secara sempurna. Beliau melakukan kontak mata sepanjang teknik dilakukan --saya merasa, benar atau tidak, beliau seperti menilai respon saya terhadap sakit dan dominasi, secara jujur dapat saya katakan, ini adalah teknik yang sempurna. Apakah saya marah, takut, bertahan, berusaha menyangkal bahwa beliau, dalam konteks teknik, menang? Seorang laki–laki kecil paruh baya ini?

Sepertinya beliau menyukai apa yang dilihat saat itu karena beliau memanggil saya minimal satu kali di tiap kelas beliau yang saya hadiri. Selalu dua respon yang dilakukan terhadap serangan saya, wakigatame pada satu tangan, dan shomen uchi irimi nage. Teknik irimi nage milik Doshu, saya yakini, sebuah ciri khas pengaruh Doshu pada perkembangan teknik aikido saat ini, karena cara Doshu melakukan irimi nage tersebut mungkin adalah cara yang paling umum dilakukan oleh tiap praktisi aikido. Pertama–tama, beliau sangat sulit ditangkap: Saya merasa seperti mengejar putik bunga yang diterbangkan angin. Ini menimbulkan pertanyaan, sebab, agar teknik tersebut dapat dilakukan, seorang uke harus “melemparkan diri sendiri” kepada beliau, pada kadar tertentu. Beliau akan melakukan gerakan irimi ke arah luar, dan menaruhkan tangan pada bahu uke, terkadang pada belakang leher, atau pada kerah Gi. Terus bergerak ke sudut belakang uke, beliau akan membawa bahu/leher uke ke bawah, menekuk lututnya sedikit. Berikut beberapa contoh beliau dalam melakukan teknik irimi nage, mungkin sedikit berbeda dengan teknik yang dilakukan saat beliau lebih muda. http://www.youtube.com/watch?v=TZ6Dv7h8DC4&feature=fvst

Sejujurnya, saya tidak ingat “harus” terjatuh pada titik tersebut. Saya tidak merasakan beliau menggunakan seluruh berat badannya (kadang disebut aiki-sage dalam Daito Ryu, menurut saya), langsung melalui lengan dan tangannya, badannya sebagai satu kesatuan, sehingga saya mengalami hilang keseimbangan, dan terpaksa jatuh. Akan tetapi, saya merasa diberi “tanda” untuk jatuh, dan saat saya sampai pada titik tertentu, saya hanya harus jatuh. Saya akan menghantam matras dengan perpaduan yoko ukemi dan mae ukemi, lalu Doshu akan melanjutkan bergerak ke arah belakang saya. Adalah tugas saya untuk berusaha mengejar beliau, berusaha memulihkan kembali posisi kaki saya, dan menyerang beliau kembali, sambil beliau meletakkan tangannya dengan daya secukupnya pada bahu/belakang leher saya atau kadang pada tangan saya yang di depan, untuk menyulitkan saya bangun tetapi tetap dapat saya lakukan. Pada dasarnya saya seperti berusaha mengejar ekor saya sendiri melalui belakang bahu saya, tidak seperti anjing yang berputar ke depan. Saat saya sudah berhasil memulihkan keseimbangan pada kaki saya, tangan beliau yang satu lagi datang ke arah bawah dagu saya dan dengan bantuan tangannya yang masih berada di bahu/leher saya, saya kembali terjatuh.
Kisshomaru Ueshiba Irimi Nage

Hal tersebut sangat melelahkan, 4 kali melakukan ukemi saya sudah kehabisan napas. Ciri khas teknik beliau adalah beliau berusaha untuk selalu bergerak. Menghindari benturan, idealnya adalah beliau tidak ada di tempat yang kita inginkan beliau berada sehingga uke menjadi kehilangan keseimbangan dalam usaha meraih atau menyerangnya.

Jika ada yang bertanya–tanya, saya tidak pernah sekali pun mencoba mencurangi/menipu, melawan, mengikuti dengan pelan, menahan tangan, atau melakukan tackling terhadap beliau. Jika saya ingin mencoba kemanjuran dari teknik aikido, banyak anak muda yang dapat saya jadikan uji coba. Beliau seorang “gentleman”, dan saya berlaku demikian pula terhadap beliau.

Saya tidak pernah bercakap–cakap dengan beliau setelah perkenalan pertama. Suatu saat saya datang ke kelas 06.30 pagi dengan salah seorang murid Yasuo Kobayashi, kami berdua dalam keadaan mabuk karena kami baru pulang pada pukul 3 pagi. Doshu mendekati untuk mengoreksi teknik yang kami lakukan, beliau mencium sesuatu dari kami, bergerak mundur, mulai tertawa dan menggoyangkan telunjuknya menegur kami, lalu berjalan pergi.

O Sensei dan Kisshomaru Ueshiba
Pada suatu malam, saat sedang makan bersama beberapa uchi deshi pada suatu tonkatsu-ya, timbul pertanyaan apakah saya ingin menjadi seorang uchi deshi. Saya sudah berlatih Araki ryu saat itu, meninggalkan aikido menuju dunia yang berbeda sehingga saya keberatan. Saya yakin pertanyaan tersebut tidak akan muncul tanpa ada persetujuan pada pembicaraan sebelumnya tentang saya di dojo. Hal ini berarti banyak bagi saya bahwa saya dinilai cukup pantas dimata Doshu, karena saya sangat mengaguminya. Beliau berhasil melewati didikan seseorang yang luar biasa, ketika pada umumnya seorang anak seperti beliau akan menjadi tidak berarti atau hanya menjadi “echo” dari bapaknya. Beliau berhasil menegosiasikan situasi yang sangat sulit, dengan banyak tokoh–tokoh, yang sebagian besar lebih berkuasa dari beliau, dan sebagian lainnya yang merasa demikian. Beliau menempatkan dirinya, tidak pada posisi puncak, tapi pada posisi pusat. Kembali meninjau ke belakang, saya berpikir bahwa irimi nage dan wakigatame yang dilakukan mencontohkan gaya kepemimpinan beliau sama seperti gaya teknik beliau di dojo. Beliau konsisten dalam hal ini. Beliau lebih banyak menempatkan dirinya tidak sepenuhnya terjangkau oleh orang–orang yang setuju berada dalam “sistem” nya. Namun, beliau dapat melakukan “armbar” yang keras sehingga walaupun jarang, beliau dapat mengambil tindakan tegas terhadap pihak–pihak yang berseberangan.
Kisshomaru Ueshiba dan Isoyama Sensei


Kisshomaru Ueshiba dan Saito Sensei
Kishhomaru Ueshiba dan Yamada Sensei
      












_______________________________________________________________________
  

  Berikut beberapa catatan yang dapat menambah informasi terhadap tulisan di atas, dan beberapa hal yang secara pribadi dapat saya tangkap:

  • Ellis Amdur memulai latihan beladiri pada tahun 1968 dengan berlatih karate, dilanjutkan dengan berlatih beladiri cina. Pada tahun 1973 beliau mulai mempelajari aikido yang membawanya ke jepang pada tahun 1976. Di jepang beliau mulai mempelajari Araki Ryu dan Toda Ha Buko Ryu. Walaupun sudah tidak melanjutkan berlatih aikido, tetapi beliau aktif menulis buku dan diskusi pada forum–forum aikido dan budo lainnya.

  • Yasunori Kuwamori Sensei, seorang Aikido Sensei yang mengelola Kuwamori Dojo. Dojo tersebut termasuk cabang awal dari Honbu Dojo. Seigo Yamaguchi Sensei dan Mitsugi Saotome Sensei merupakan sensei yang diutus dari Honbu untuk mengajar di sana. Kuwamori Sensei sendiri awalnya  adalah praktisi karate dengan tingkatan Yondan atau Godan. Cukup banyak cerita tentang Kuwamori Sensei dengan kepribadiannya yang cukup unik dan kerasnya latihan di dojonya pada saat itu. Eka Sensei dan saya beruntung dapat berkunjung dan berlatih di dojo tersebut pada tahun 2012

  •  Mitsugi Satome Sensei, salah seorang murid langsung O’Sensei yang sangat berbakat. Beliau mendirikan Aikido School of Ueshiba (ASU) di Amerika yang sampai saat ini adalah salah satu organisasi aikido terbesar disana. Beliau sendiri saat ini berumur 78 tahun dan masih aktif mengajar. Dalam perjalanannya,  ASU sempat keluar dari Aikikai, tetapi bergabung kembali beberapa tahun kemudian.

  • Terry Dobson, termasuk salah satu murid asing generasi awal dari O’Sensei yang sempat berlatih di Honbu Dojo selama kurang lebih 10 tahun.

  • Yoshio Kuroiwa Sensei, salah satu murid langsung O’Sensei yang sebelumnya adalah seorang petinju professional sehingga pandangan dan gaya beliau dalam aikido cukup unik. Beliau selalu menolak untuk naik tingkat, sampai Kisshomaru Ueshiba Sensei secara pribadi meminta beliau untuk menerima tingkatan Rokudan dengan alasan tidak mungkin mengirim beliau untuk mengajar di dojo tanpa memiliki tingkatan.

  • Ichiro Shibata Sensei, salah satu uchi deshi awal dari Kisshomaru Ueshiba Sensei di tahun awal 1970, saat ini menyandang tingkatan Nanadan, dan pada tahun 1989 pindah ke amerika untuk menjadi chief instructor pada Berkeley Aikikai

  • Nobuyuki Watanabe Sensei, salah satu murid langsung O’Sensei yang sangat terkenal dengan teknik “no touch” nya.

  • Beberapa hal yang dapat saya ambil pelajaran adalah dalam hal etika Ellis Amdur dalam berlatih, antara lain:
1.       Berpikiran positif. Ellis tidak berpikir bahwa saat para guru menggunakannya sebagai uke untuk mencoba beberapa teknik adalah hal yang negatif (pada masa itu seorang asing yang berlatih di Honbu sering merasa didiskriminasikan dan diperlakukan secara keras berlebihan). Namun Ellis tetap menanggapinya dengan berlaku sebagai seorang uke yang baik, yaitu menyerang secara bersih dan jujur, tanpa mengacau teknik sang guru, tetapi dalam kewaspadaan penuh sehingga dapat melakukan ukemi yang aman.

2.       Melakukan teknik seperti yang ditunjukkan atau diajarkan pemimpin latihan. Hal ini sudah sering diingatkan oleh Sensei dan para Senpai di dojo. Dengan etika seperti ini, ilmu yang akan diajarkan atau pengetahuan yang akan dibagi oleh pemimpin latihan akan lebih banyak diserap oleh yang berlatih. Melakukan teknik yang lain dari yang ditunjukkan adalah menunjukkan sikap tidak hormat kepada pemimpin latihan dan sedikit banyak akan mengganggu jalannya latihan.

3.        Kewaspadaan dan kemampuan ukemi. Ukemi merupkan salah satu dasar paling penting agar seseorang dapat semakin berkembang dalam aikido. Uke yang baik akan menjadi nage yang baik. Apabila kita dapat merasakan apa yang dilakukan oleh nage, dan kita dapat menerimanya dengan baik, hal tersebut akan menambah pengetahuan kita khususnya saat kita menjadi nage. Dasar–dasar sebelum berlatih teknik sangat penting untuk dikuasai. Dimulai dari postur tubuh, tai sabaki, ashi sabaki, ukemi, shikko, dll.

4.      Melakukan latihan dengan menyenangkan. Dengan suasana latihan yang menyenangkan akan mempengaruhi aura latihan itu sendiri, aura dojo, dan sekitarnya. Sehingga kebaikan–kebaikan yang didapat dan dirasakan akan semakin menyentuh banyak orang.

5.       Tidak berniat mencoba atau mengetes teknik, baik saat menjadi nage maupun uke. Salah satu perbedaan aikido dengan beladiri lain pada umumnya adalah tidak adanya kompetisi, baik secara resmi seperti kejuaraan, maupun secara tidak resmi seperti mengetes teknik pemimpin latihan atau pasangan latihan di dojo. Sensei menekankan untuk latihan mudansha sampai dengan shodan adalah menguasai prinsip–prinsip dasar postur dan gerakan serta menghafal bentuk teknik.  Berhubungan dengan hal ini, saya berpendapat sebaiknya seminar aikido tidak diikuti oleh orang yang berlatar belakang beladiri lain tanpa pernah mempelajari aikido khususnya mengenai cara berlatih aikido. Tanpa sama sekali meragukan kemampuan seorang sensei yang mengadakan seminar apabila menemui seorang yang berlatar beladiri lain datang dan mencoba apakah teknik sang sensei efektif atau tidak. Namun, hal ini akan mengganggu pelajaran yang ingin disampaikan sang sensei dan sedikit banyak mengubah aura latihan.

  • Kalimat favorit saya pada artikel diatas adalah He was a gentleman, and I acted like one too”. Kalimat tersebut didahului dengan paragraf yang menerangkan bahwa Ellis tidak pernah mencoba untuk mencurangi/menipu, melawan, mengikuti dengan pelan, menahan tangan, atau melakukan tackling saat Kisshomaru Ueshiba Sensei melakukan teknik. Hal tersebut dilakukan oleh Ellis dengan alasan bahwa Kisshomaru Ueshiba Sensei adalah seorang “gentleman”, dan Ellis (menjadi) berlaku demikian pula terhadap beliau (saya tidak menemukan kata yang tepat untuk menerjemahkan “gentleman” pada kalimat ini). Bukan karena Kisshomaru Ueshiba Sensei adalah seorang yang “sakti”, tekniknya tidak dapat dipatahkan, badannya besar/kekar, sudah berumur, atau karena beliau adalah Doshu, melainkan karena beliau adalah seorang “gentleman”. Secara pribadi, hal seperti inilah yang menjadi tujuan saya mempelajari aikido, yaitu melalui latihan aikido secara fisik dan mental membentuk pribadi seorang “gentleman” sehingga dapat “mengajak” atau “mempengaruhi” orang lain menjadi pribadi yang lebih baik. Mungkin ini salah satu maksud dari O’Sensei dalam satu paragraf doka nya: First master the technique of Aiki; The way of the Gods; Then no enemy will ever attack.   

Jakarta, 31 Mei 2015


Farman B. Razif

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran Sempurna Seorang Uke

Sejarah Tenkei Aikidojo

Tenkei Aikidojo Membuka Dojo Baru di Area Menteng